Saturday, August 25, 2018

Catatan dari Diskusi Buku Mengubah & Menginspirasi – Cerita Tentang Perubahan

Tanggal 10 Agustus lalu, BaKTI (Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia) kembali menggelar diskusi buku di kantor BaKTI jalan Andi Mappanyukki nomor 32. Kali ini, buku yang didiskusikan itu berjudul Mengubah & Menginspirasi – CeritaTentang Perubahan. M. Yusran Laitupa – Direktur Eksekutif Yayasan BaKTIpada kata pengantarnya di buku ini menjelaskan bahwa selama kurang lebih 4 tahun, BaKTI dan para mitranya di daerah berhasil mendorong perubahan beberapa kebijakan yang cukup signifikan dan berpihak kepada perempuan dan masyarakat miskin. Perubahan tersebut telah melalui proses panjang dan mengikuti tata aturan yang berlaku.


Tulisan-tulisan dalam buku ini dibuat berdasarkan pendekatan MSC (Most Significanti Change) untuk melihat perubahan yang signifikan pada individu ataupun kelompok. Teknik MSC adalah salah satu pendekatan dalam monitoring dan evaluasi secara kualitatif.

“Ketika pemberdayaan dilakukan, apa yang sudah dilakukan perempuan sehingga dia memiliki suara atau pengaruh. Diskusi atau pelatihan yang dilakukan misalnya, berpengaruh bagaimana pada pemberdayaan perempuan. Apakah dia bisa menyuarakan hak-haknya kepada suaminya atau mempengaruhi orang lain dan menjadi inspirasi untuk melakukan perubahan yang sama dengan apa yang telah dia lakukan,” Lusia Palulungan – Manajer Program Mampu BaKTI memberi penjelasan pada awal diskusi buku ini.

Oya Yayasan BaKTI adalah salah satu mitra Program MAMPU (Kemitraan Australia Indonesia untuk Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan). Pada fase kedua program ini (2017 – 2020), BaKTI berfokus pada “Meningkatkan Akses kepada Layanan dan Program Dasar Pemerintah untuk Perempuan Miskin di wilayah Program”.

Kak Ema, Pak Alwy, dan Kak Luna
Menariknya, yang menjadi nara sumber pada diskusi buku ini  adalah Husaima Husain (Kak Ema – aktivis perempuan, saya mengenalnya sebagai aktivis SPAK – Saya Perempuan Anti Korupsi - salah satu perempuan yang saya penasaran menyimak perannya sebagai nara sumber, baru pertama kali saya menyaksikannya berperan sebagai pembedah buku dan saya suka daya kritisnya) dan Alwy Rachman (akademisi Universitas Hasanuddin yang juga budayawan – beliau merupakan nara sumber favorit saya dalam banyak kesempatan). Makin menarik lagi karena yang bertindak sebagai moderator adalah Luna Vidya (Kak Luna ini moderator favorit saya dalam banyak kesempatan).

Perempuan Mampu untuk Berdaya Memperjuangkan Dirinya Sendiri

Kak Ema menggarisbawahi tentang buku ini mengenai perempuan yang berdaya jika dia mau. Perempuan sanggup berdaya kemudian jadi inspirator bagi orang lain. Contohnya adalah pada kisah Patimang Menang di Pengadilan (halaman 81). Patimang – penggembala sapi dan petani penggarap miskin dituduh tetangganya seorang pengusaha membakar kandang ayam. Dia dituntut kerugian sebesar 30 juta rupiah.

Memikirkan bagaimana membayar ganti rugi, untungnya Patimang mengadukan masalahnya kepada seorang tetangganya. Tetangganya itu menyarankan Patimang mengadukan masalahnya kepada Kelompok Konstituen (KK) Maharani, Desa Purnakarya, Kecamatan Tanralili, Kabupaten Maros. Di sanalah dia mendapatkan penyelesaian masalahnya. Dia harus menghadiri beberapa kali sidang, mendapatkan bantuan pengacara dari LBH APIK dan menang di pengadilan. Tak pernah bisa dia sangka akan menggapai kemenangan melawan orang kaya.

“Program MAMPU cukup berhasil untuk menemukan titik-titik kekuatan di tingkat desa dan bagamana menggerakkan dengan mengkombinasi dengan komunitas lain. Kalau berbicara tentang perubahan, kita bisa katakan bahwa kekuatan perempuan bisa menjadi inspirasi perubahan,” pungkas Kak Ema.


Buku ini juga memuat inspirasi mengenai perempuan yang di-support oleh pikiran positif dalam menghadapi masalahnya yang bak “telur di ujung tanduk”. Contohnya adalah pada kisah di halaman 45 – Masiah, Penyintas yang Menebar Semangat Hidup. Oleh Masiah pikiran negatif bisa diubah menjadi positif (saya malah berpikir mungkin Masiah jenis orang yang tidak suka berpikiran negatif, sikapnya memang senantiasa positif dalam mencari solusi).

Masiah pernah divonis kanker payudara stadium 4. Butuh perjuangan baginya dalam menghadapi pemeriksaan awal, lanjutan, hingga pengobatan yang mengharuskannya dikemoterapi dari kediamannya di Lombok Timur hingga ke RS Sanglah di Denpasar Bali. Sungguh bukan perjalanan yang mudah, bermodalkan uang yang pas-pasan, tanpa sanak-saudara di sepanjang perjalanannya namun Masiah berhasil melaluinya dan kini menjadi inspirator dan motivator bagi kaum perempuan di daerahnya. Masalah lain yang timbul adalah ketika suaminya yang menjadi TKI di negara tetangga mengharuskannya diperiksa dan dirawat oleh tenaga medis perempuan tetapi itu tidak mungkin. Untuk hal ini Masiah terpaksa berbohong kepada suaminya guna memperjuangkan kehidupannya.

Untuk hal seperti ini, orang bisa salah paham bahwa Islam sama sekali melarang tenaga medis laki-laki memeriksa/merawat perempuan. Padahal ada kondisi darurat yang mana hal itu diperbolehkan, yaitu ketika berurusan dengan nyawa. Islam tidak mengajarkan ummatnya untuk memilih menunggu kematian melainkan harus mati-matian memperjuangkan hidup. Dalam hal ini, saya memuji Masiah.

“Yang bisa menolong kita saat di titik nadir adalah diri kita sendiri. Perempuan di ujung tanduk kematiannya masih harus punya kekuatan (untuk bersikap) bahwa pilihan hidupnya adalah dirinya sendiri meskipun ada suaminya,” ungkap Kak Ema mengenai Masiah.

Merefleksikan Buku

Butuh waktu berhari-hari bagi saya menuliskan kembali bagian ini karena kata-kata Pak Alwy – seperti biasa, harus dicerna baik-baik sebelum dituliskan. Baiklah, semoga saya tak salah memaknainya.


Perempuan kuat karena dia haid. Hormonnya terganti terus-menerus. Berbeda dengan laki-laki. Aktivasi bahasa perempuan itu pada dua belahan otak: kanan dan kiri sementara laki-laki hanya pada otak kiri. “Otak kiri itu otak ego, egonya besar, tidak mau tersinggung, menghindari terluka. Tidak adaptif. Sementara peremuan ada juga di otak kanan. Otak kanan imajinatif makanya mampu beradaptasi dengan semua situasi,” ucap Pak Alwy.

Kelemahan perempuan adalah tidak menimbang-nimbang risiko. Laki-laki, bagian thalamus di otaknya lebih lebar, perempuan lebih sempit. Thalamus adalah bagian yang berfungsi menghitung risiko.

Pak Alwy kemudian mengajak hadirin untuk merefleksikan isi buku ini. Yaitu dengan menjawab 3 what  (3 “apa”) berikut ini:
  1. Apa sebenarnya yang bisa kita pelajari dari buku ini?
  2. Apa dampaknya terhadap kita, apakah berdampak pada orang lain?
  3. Kita mau apa?
Selanjutnya mengenai perubahan, ada beberapa jenis. Ada perubahan yang proaktif dan ada perubahan yang reaktif. Perubahan yang proaktif itu misalnya tuning – penyesuaian (adjustment).

Juga ada transformasi (transform) dan reformasi (reform). Perubahan paling radikal sebenarnya adalah transformasi. Contoh transformasi adalah ulat yang berubah menjadi kepompong kemudian berubah menjadi kupu-kupu. Ketika dia sudah menjadi kupu-kupu maka dia tidak akan kembali menjadi ulat. Reformasi contohnya adalah ular. Ular hanya berganti kulit tetapi tetap saja ular.

Nah, apakah yang ada dalam buku ini perubahan-perubahan yang transformasional atau tidak?

“Ada beberapa hal yang kita perhatikan dalam perubahan yang tidak ada dalam buku ini. Yang pertama adalah soal asumsi perubahan. Benar adanya bahwa pusat perubahan adalah pada individu. Tidak ada gunanya sistem dipasang kalau individu tidak diubah. Terkait buku ini, individu itu adalah perempuan yang paling adaptif dan paling fleksibel,” Pak Alwy melanjutkan mengupas buku Mengubah & Menginspirasi – Cerita Tentang Perubahan.


“Yang kedua, perubahan hanya bisa terjadi jika ada motivator. Jadi BaKTI melalui program MAMPU sebagai motivator. Yang ketiga, ada pembelajaran baru yang menghentikan pembelajaran lama. Yang tidak ada dalam buku ini adalah tingkat perlawanan, siapa yang melawan di daerah itu ketika perubahan itu disodorkan,” imbuh Pak Alwy.

Terkait hal ini, Kak Lusi menanggapi bahwa orang-orang yang dalam buku ini adalah yang tidak pernah bersentuhan dengan perspektif. Ketika diintervensi, masyarakat yang ada di kelompok konstituen ini adalah wilayah yang baru, termasuk anggota DPR. Kecuali Andi Anja (dari Pare pare). Tapi orang-orang di Belu, Ambon, NTB, semuanya adalah orang-orang yang baru. Perubahannya adalah dari dia tidak tahu menjadi tahu, dari tidak sadar menjadi sadar, dari yang tidak punya perspektif menjadi punya perspektif.

Terkait latar belakang suatu wilayah, kelompok konstituen adalah kelompok yang dibangun di tingkat desa atau kelurahan di mana pengurusnya berasal dari berbagai latar belakang. Ada tokoh masyarakat, tokoh agama, kader-kader PKK, pengurus-pengurus. Hambatannya? Tidak terlalu menghambat karena iklimnya sudah disediakan, artinya ketika dia akan bergerak untuk melakukan perubahan kelompok konstituen ini mem-back up dia jadi tidak terlalu banyak tantangan kecuali tantangan di dalam keluarga misalnya.

Banyak pertanyaan dari hadirin yang ditanggapi oleh Kak Ema dan Pak Alwy. Mungkin lebih cocok saya tuliskan di tulisan lain karena bagian ini saja sudah sangat panjang. Yang jelas, buku ini memberikan pelajaran yang sangat berharga, utamanya mengenai kekuatan perempuan dari masyarakat bawah yang bisa bangkit memperjuangkan hak-hak hidupnya. Lalu patut kita renungkan apa yang dikatakan Kak Luna agar buku ini bisa menginspirasi kita, “Membuat keputusan dan sampai ke tahap bergerak bersama.”

Makassar, 25 Agustus 2018


Baca juga:

2 comments:

  1. Menarik banget bukunya, lumayan nambah pengetahuan gua yang masih cetek hehe

    ReplyDelete
  2. wahhhh suka banget ya mba baca buku, setiap kali datang ke acara tentang buku bukuan

    ReplyDelete