Monday, April 22, 2019

Memetik Keberanian, Membincangkan Anak-anak dari Bencana Hingga Panggung Lain

MEMETIK KEBERANIAN - Concern pada mulanya adalah memberi sumbangan yang dibutuhkan maka Kak Muhary Wahyu Nurba bersama  IDeAKSI menyelami kehidupan para korban gempa Lombok. Mereka pun mendapati kenyataan bahwa memberi sumbangan tak sesuai dengan kebutuhan memang tidaklah bijak.

Beberapa ide kemudian menjadi aksi, di antaranya adalah memenuhi permintaan akan sayuran segar hingga berkembang menjadi gerakan menanam sayuran di pekarangan dan mengumpulkan tulisan (cerita anak) untuk dimanfaatkan menjadi bahan bercerita guna melepas trauma anak-anak terdampak gempa.


Saat itu saya membantu membagikan informasi di Facebook dan mention teman-teman penulis cerita anak. Sejumlah tulisan terkumpul dari berbagai penjuru. Ide ini bersambut dengan niat tulus dari beberapa pihak, termasuk Ikatan Alumni Mahasiswa Australia (IKAMA) chapter Sulawesi Selatan untuk mewujudkan buku MEMETIK KEBERANIAN.

“Saya pengen buku ini (untuk) semua anak di dunia. Jadi, buku ini nanti akan begulir. Kalau ada yang ingin mencetak buku ini atau membiayai percetakannya, silakan,” ujar Kak Muhary pada Diskusi Buku Memetik Keberanian tanggal 15 silam. 

Disampaikan pula pada diskusi yang berlangsung di kantor Yayasan BaKTI itu bahwa sudah ada orang yang siap membantu menerjemahkan kalau buku MEMETIK KEBERANIAN akan dibuat edisi bahasa Inggrisnya.


Belajar dari Bencana


Mbak Nana Saleh dari IKAMA menceritakan pengalaman dirinya dan orang-orang dekatnya ketika menghadapi gempa di luar negeri. Begitu canggihnya sistem peringatan dan penanggulangan gempa di luar negeri. Masyarakat di luar negeri terlatih mempersiapkan keadaan darurat bencana.

Menurut Mbak Nana, pertanyaan yang harus kita jawab adalah “apa yang kita pelajari dari gempa?” Di negara-negara maju, keteraturan tak lepas dari kebiasaan warganya. Mereka tetap antre dan membeli sesuai kebutuhan. Bukannya meraup sebanyak-banyaknya barang meskipun berduit.

“Pesan moralnya adalah: dalam
keadaan darurat jadilah manusia
yang bermartabat. Inilah pentingnya
kita mengadvokasi sebagai civil society,”
ujar Mbak Nana dilanjutkan dengan penegasan
bahwa kita bisa melakukannya.

Yang Dibutuhkan Saat Bencana


Kak Muhary (pegang mic)

Menarik menyimak benang merah dari Mbak Nana ke Pak M. Ghufan H. Kordi K yang terbiasa dalam kerja-kerja di daerah bencana. Berdasarkan pengalamannya, aktivis perlindungan anak jika ke daerah yang terdampak bencana, mengidentifikasi kebutuhan seperti popok atau susu.

Sementara aktivis perempuan mengidentifikasi pakaian dalam perempuan atau pembalut. Hal-hal khusus seperti ini tidak diperhatikan dalam pandangan negara ketika situasi darurat. Makanya sering kita temui, penggalangan bantuan diinisiasi oleh kelompok yang peduli akan hal ini.

Di banyak tempat dan banyak situasi, bantuan pakaian layak pakai kebanyakan merupakan pakaian orang dewasa. Sering ditemukan sumbangan daster yang begitu besar jumlahnya sementara pakaian anak-anak hanya sedikit.

Salah seorang donatur

Sebenarnya dalam Konvensi Hak Anak ada aturan yang bisa dirujuk untuk anak-anak terdampak bencara. Sayang sekali negara kita tidak pernah membuat aturan untuk itu. Negara kita hanya meratifikasi Konvensi Hak Anak tanpa menurunkannya ke dalam bentuk peraturan tersendiri.

Ironis sebenarnya karena sejak “zaman purba”, negeri kita ini sudah mengalami bencana alam tetapi tidak pernah mengeluarkan aturan terkait korban bencana. Bagaimana mau memperhatikan apakah ada warga dalam kondisi tertentu yang memiliki kebutuhan tertentu?

Seakan lupa pernah mengalami masa kanak-kanak, cara pandang kita dalam melihat sesuatu hanya melihat manusia itu ada laki-laki dan perempuan dewasa. Sehingga ketika membuat kebijakan, tidak memperhatikan anak-anak, lansia (lanjut usia), dan difabel.

Mbak Nana, Pak Alwy, Pak Ghufran

Ketika membangun tempat penampungan sementara untuk korban bencana misalnya, kebutuhan khusus perempuan, anak-anak, lansia, dan difabel tidak diperhatikan. Jumlah toilet laki-laki dan perempuan sama padahal perempuan lebih lama berada di dalam toilet sehingga waktu antre perempuan jadinya lebih panjang.

“Hal-hal sehubungan dengan psikososial
usai bencana memang tidak terperhatikan
oleh pemeritah. Inilah yang harus
diambil alih oleh kita-kita. Kalau tidak, mungkin
tidak pernah akan dilakukan,” ujar Pak Ghufran.

Panggung Bagi Anak-anak


Pak Alwy Rachman pembicara favorit saya, yang kondang di Makassar sebagai budayawan, sastrawan, penulis, dan teman diskusi aktivis tampil sebagai pembicara terakhir. Seperti biasa, ada tulisan hasil olah pikir yang dipersiapkannya dan dibagikan kepada para peserta diskusi.

Di negeri sendiri, drama anak-anak bukan di panggung perang, bukan pula di panggung kelaparan. Anak-anak negeri sendiri muncul di panggung bencana. Perang, kelaparan dan bencana, dengan demikian, menjadi hilir bagi masalah anak-anak. Di hulu, hak anak tak dipercakapkan dengan dalam, tak diperhitungkan secara rinci dalam kebijakan publik. 
Kutipan tersebut ada dalam tulisan Pak Alwy Rachman berjudul Anak-anak di Ragam Panggung, untuk pengantar diskusi ini.

Pak Alwy juga menyampaikan bahwa dalam satu pengantar pracitra Children’s Rights, dipublikasi pada tahun 2016, Mhairi Cowden menulis tentang “apa sesungguhnya yang dimaksud dengan hak, dan dengan alasan apa anak-anak dianggap layak memilikinya”.


Pada mulanya, Mhairi Cowden menganggap pertanyaan seperti ini tak lebih dari soal moral dan filsafat.  Tak sukar menjawabnya. Tapi, dalam proses menuliskan “kertas posisi” untuk UNICEF, Mhairi Cowden segera menyadari ketiadaan konsensus terhadap hak anak. Retorika untuk mengadvokasi hak anak pun menjadi hampa akibat ketiadaan dasar-dasar teoretik tentang hak anak.

Yang disampaikan oleh Pak Alwy senada dengan yang disampaikan oleh Pak Ghufran, yaitu bahwa anak-anak pada kenyataannya merupakan warga negara kelas dua.

Hampir semua kebijakan publik kita tidak mewadahi kepentingan anak-anak. Kita tak punya scientific temper (Pak Alwy meminjam istilah Mbak Nana) yang mendalam terhadap anak-anak. “Kita tidak mengandalkan hidden curiculum dalam desain program sekolah lalu kita teriak-teriak tentang pendidikan karakter. Padahal sekolah kita dibangun oleh tukang batu. Bukan arsitek yang bekerja sama dengan ahli pendidikan,” Pak Alwy memberikan gambaran.

Entah mengapa bangsa kita kini menjadi bangsa yang reaktif ketimbang responsif. “Reaktif itu sekadar bereaksi lalu selesai. Kalau responsif itu memang dia merespon, dia berpikir dalam. Itu makanya dalam bahasa Inggris responsibility adalah pertanggungjawaban,” ungkapnya lagi.

Foto: dari akun FB Muhary Wahyu Nurba

Selalu saja Pak Alwy mengajak hadirin untuk merenung dan menelaah. Apa yang disampaikan oleh ketiga nara sumber saling berkaitan dan pada pokoknya menerima dengan tangan terbuka hadirnya buku MEMETIK KEBERANIAN. Namun demikian, akan lebih menarik jika saya kutipkan tanggapan khusus Pak Alwy mengenai buku yang memuat cerita dari 28 penulis inim sebagai berikut:

“Memetik Keberanian”, kumpulan cerita yang didedikasikan untuk anak-anak terdampak Bencana Palu, ditulis dengan jenjang keterbacaan (readability) tinggi. Kalimat-kalimat sederhana, diksi keseharian, dan alur imajinatif yang berkesesuaian dengan kapasitas kognitif anak-anak. Satu-satunya yang agak hilang dalam ragam kisah ini adalah karakter “onomatopoeia”, yaitu karakter diksi yang terbentuk oleh bunyi-bunyi yang diasosiasikan dengan aktor yang dimaksud, terutama kisah yang aktornya menumpang pada animasi. Bunyi “desis” untuk ular, bunyi “cicit” untuk tikus, misalnya.

Cerita memang berfungsi untuk mengalur-alirkan gagasan moral, mengembangkan imajinasi, dan menutup celah antara apa yang terbaik di dunia imajinasi dan apa yang salah di dunia nyata. Oleh karenanya, fungsi phonetic, fungsi phatic dan fungsi rhetic bahasa menjadi andalan representatif untuk membawa anak-anak ke dunia ideal.

Phonetic, phatic dan rhetic adalah tiga fungsi bahasa yang menjadi ciri pembeda bahasa literer, terutama karya literer untuk anak-anak. Phonetic setara dengan “bunyi”, phatic sejajar dengan “kata”, dan rhetic sebangun dengan “wacana”. Maka, kalimat “Cit. Tikus. Tikus itu lari.”  adalah kalimat yang memenuhi tiga fungsi bahasa. Lewat fungsi phonetic, anak-anak belajar meniru suara alam. Melalui fungsi phatic, anak-anak belajar penyebutan identitas. Lewat fungsi rhetic, anak-anak mengenali wacana tindakan.

Pada akhirnya, kita semestinya percaya pendakuan Clarissa Pinkola, seorang psikoterapis Amerika, penulis pengantar “The Hero With A Thousand Faces” karya Joseph Campbell, dipublikasi tahun 2004. Ia bilang, “jika hati dan keberanian adalah otot penggerak spiritual yang menolong seseorang menjadi manusia utuh, maka kisah adalah tulang kerangkanya.”  Cerita adalah kisah. Mari kita menerima kumpulan cerita “Memetik Keberanian” sebagai upaya literer “membangun tulang kerangka” spiritualitas anak-anak korban bencana.


Makassar, 22 April 2019

5 comments:

  1. Buku yang sangat bagus isinya.
    Dan layak dipublikasikan secara besar agar masyarakat mengenal betul hak anak.

    ReplyDelete
  2. jaman skrg, anak2 udh mulai jauh dr yg namanya buku, semenjak gadget betebaran dimana2, mereka lbh suka main game. miris

    ReplyDelete
  3. buku keren nich, bisa jadi bahan masukan untuk anak-anak masa kini

    ReplyDelete