Friday, January 19, 2018

Membedah Aku dan 8 Bintang

Membedah Aku dan 8 BintangPerempuan spesial berikutnya yang bukunya dibedah pada acara bertajuk Ketika Dua Perempuan Bercerita pada tanggal 30 Desember lalu adalah Wulansari Apriani, S. Pd, M. Pd, yang biasa saya sapa dengan Mbak Wulan. Saya katakan “berikutnya” karena yang bukunya pertama kali dibahas adalah Prof. Dr. Ir. Meta Mahendradatta. Anda bisa baca uraian tentang sesi yang membahas bukunya di tulisan berjudul Membedah Dalam Syukur Kutemukan Cinta-Mu.


Buku yang Patut Dimiliki Para Muslimah


Ibu Jusria Kadir, S. Sos (Kepala SDIT Ar-Rahmah) mulai mengupas pada kisah Kapan Ummi Datang (halaman 162). Membayangkan ketika anak yang sedang di Bandung sakit dan Mbak Wulan harus meninggalkan anak-anak yang lain di Makassar (atas izin suami), membuatnya terharu.

Dari penuturannya kemudian, saya menyimpulkan bahwa buku Aku dan 8 Bintang menggambarkan hubungan yang harmonis antara Mbak Wulan dan kedelapan buah hatinya dan bagaimana Mbak Wulan berusaha mendidik anaknya dengan baik.

“Bagi seorang guru, bagaimana siswa bertingkah di sekolah adalah cerminan pola asuh. Keluarga bermasalah pasti berdampak pada anak. Anak yang membuat kekacauan pasti dari rumah masalahnya,” ujarnya.

Prof. Meta Mahendradatta (kiri) dan Mbak Wulan (kanan).

Buku ini penting sekali bagi yang belum nikah dan sangat penting untuk yang sudah nikah karena kita besar tanpa persiapan menghadapi rumahtangga. Berumahtangga itu bukan hanya dalam arti memasak dan mencuci. Itu bukan esensinya. Yang esensi adalah hubungan suami-istri dan hubungan dengan anak,” Bu Jus menegaskan alasan mengapa harus membaca buku ini.

Pelajaran lainnya dari buku ini adalah bagaimana memperlakukan anak dengan hal spesial yang ada pada mereka – bagaimana anak dihargai dengan kondisinya masing-masing, menurut Bu Jus, “Kita tidak suka dibandingkan dengan istri orang lain tapi suka membanding-bandingkan anak-anak sendiri dengan anak-anak orang lain. Membandingkan anak itu ketika dia berkarya – (yaitu) sebelum dan sesudahnya!”

Kiat dari Bunda 8 Bintang


Bu Irma Thahir, ST, M. Pd (ketua JSIT) memulai bahasannya dengan menyoroti kutipan ayat al-Qur’an dari surah At-Tur ayat 21 yang dikutip oleh Mbak Wulan (di antaranya di halaman 144):
Dan orang-orang yang beriman, beserta anak-cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan. Kami pertemukan mereka dengan anak-cucu mereka di dalam surga, dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal kebajikan mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya.

“Kekokohan keyakinan akan jadi bekal. Dan sebaik-baik bekal adalah takwa. Carilah takwa itu. Tangkap. Genggam dan mohon. Agar ada di setiap episode dalam mendidik anak,” Bu Irma mengakui dirinya ikut larut dalam membaca buku Aku dan 8 Bintang.

Dengan membahas satu per satu buah hatinya, Mbak Wulan mengusahakan ketahanan keluarga. Caranya adalah dengan mengondisikan anak.

Poin berikut yang yang dibahas oleh Bu Irma sehubungan dengan buku karya Mbak Wulan ini adalah mengenai pentingnya imunisasi jiwa, “Instrospeksi dirilah wahai ibu. Ketika anak di luar keinginan, jangan salahkan anak. Mungkin kita kurang bersyukur. Mungkin hubungan dengan Allah kurang. Lakukan imunisasi jiwa.”


Lakukan deteksi diniMisalnya ketika Aisyah bermain sekolah-sekolahan dan menjadi guru yang galak. Mbak Wulan menggali dari Aisyah apa sebabnya dia bertindak menjadi guru galak dan tak mau lagi bersekolah di sekolah lamanya (halaman 80):
Episode ini memberikan pelajaran berharga. Sikap dan sifat anak akan sangan dipengaruhi oleh lingkungannya. Sebagai orangtua, saya tak bisa memproteksi sedemikian rupa, tapi yang harus saya lakukan adalah memberikannya pemahaman perlahan, itulah proses yang saya sebut  sebagai imunisasi jiwa.

Ubah energi negatif menjadi energi positif (halaman 118). Mengaku pernah marah, Mbak Wulan tidak mau mengikuti kemarahan. Berusaha sekuat mungkin diubahnya energi negatif yang terus merangsek masuk menjadi energi positif. Gunakan keajaiban hormon endorfin yang timbul berkat kedekatan kita dengan Allah.

Formula berikut ini disarikan Bu Irma dari buku Aku dan 8 Bintang, bahwa jadi seorang ibu itu harus: TEGUATSIKADAS:
  • Tenang (misalnya ketika menangani anak sakit).
  • Tangguh (saat melayani semua anak).
  • Kuat (di saat dirinya sakit berusaha kuat).
  • Komunikasi (mampu berkomunikasi dengan cara yang lucu/disukai anak-anak).
  • Cekatan (misalnya ketika mempersiapkan anak-anak di pagi hari untuk bersekolah).
  • Cerdas (dalam menyiasati dan menghadapi banyak hal).

Lalu energinya dari mana? DARI ALLAH!

Mengutip bagian akhir dari buku karya Mbak Wulan, Bu Irma melanjutkan pembahasannya, “Membangun keluarga seperti membangun istana.” Butuh energi yang besar untuk membangun istana yang besar dan megah maka perlu menyiapkan bekal berupa gizi untuk akal dan ruhiyah anak.

Muaranya adalah Qur’an surah An Nisa’ ayat 9:
Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka.

Bunda yang Ingin Berdaya Guna


Saat berkesempatan bercerita tentang bukunya, Mbak Wulan menegaskan keinginannya” “menjadi sebaik-baik manusia”, seperti Ibu Meta Mahendradatta. Buku yang dihasilkannya merupakan proses belajarnya di Sekolah Perempuan yang dikelola Indscript selama 3 bulan yang kemudian mendorongnya menuliskan buku Aku dan 8 Bintang.

Foto bersama usai bedah buku. Sumber foto: akun Facebook Prof. Meta Mahendradatta

Mbak Wulan menemukan menulis menjadi obat jiwa. Dirinya menyenangi menulis kehidupan sehari-hari. “Menulis bukan karena sudah menjadi ibu yang hebat melainkan ingin menjadi perempuan yang berdaya guna yang bisa memberi makna,” pungkas sarjana Teknik Elektro berkacamata ini.

Dari rahimnya, di antara 8 bintang itu, 4 orang kini menjadi hafizh (penghafal al-Qur’an). Masya Allah. Semoga kelak Allah mengijabah, keinginan Mbak Wulan bersama suami dan anak-anaknya untuk berumah di surga. Semoga Allah memberinya kekuatan, juga kepada para ibu yang sedang berjuang membangun istana mereka masing-masing. Aamiin.

Makassar, 19 Januari 2018


Keterangan:

2 comments:

  1. Belum tuntas kubaca bukunya dinda jadi belum bisa kasi review, hehehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga belum, Kak. Malah anakku duluan selesai baca bukunya hehe

      Delete