Monday, January 8, 2018

Membedah Dalam Syukur Kutemukan Cinta-Mu

Tanggal 30 Desember, kembali saya menghadiri Bedah Buku spesial. Ada dua hal yang membuat acara bertajuk “Ketika Dua Perempuan Bercerita” ini spesial. Hal pertama adalah: kedua penulis yang bukunya dibedah adalah ibu rumah tangga. Dan hal kedua adalah para penulis dan pengupas buku, termasuk moderator  – semuanya pengajar. Kedua penulis yang bukunya dibedah kali ini: Prof. Dr. Ir. Meta Mahendradatta adalah seorang guru besar di Unhas, sementara Wulansari Apriani, S. Pd, M. Pd, yang biasa saya sapa dengan Mbak Wulan adalah seorang guru di SMKN 3 Gowa. Kedua nara sumber – pembedah dua buku (karya Prof. Meta dan Mbak Wulan) adalah Irma Thahir, ST, M. Pd (ketua JSIT) dan Jusria Kadir, S. Sos (Kepala SDIT Ar-Rahmah). Bertindak sebagai pemandu yaitu Hasrianti, S. HI, S. Pd. I yang berprofesi sebagai guru SMA Al-Fityan Gowa.


Format acara ini dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama membahas buku Dalam Syukur Kutemukan Cinta-Mu karya Prof. Meta dan sesi kedua menyajikan buku Aku dan 8 Bintang karya Mbak Wulan. Masing-masing dikupas oleh Bu Irma dan Bu Jus, lalu ditutup dengan penuturan para penulisnya. Setelah kedua sesi tersebut ada sesi tanya-jawab yang berlangsung seru.

Warna-Warni Catatan Spiritual

Bu Irma membuka pembahasannya dengan mengatakan, “Buku ini merupakan perjalanan spiritual yang telah dirajut penulis yang bercerita tentang cerita-cerita masa lampau.”
Istri dari Prof. Dr. Ir. Abubakar Tawali yang bungsu dari dua bersaudara ini menggambarkan bahwa Life is beautiful Life is colourful.

Melalui buku ini kita diajak untuk menyelami warna-warna yang dirasakan penulisnya, seperti merah yang membuat kita kuat, hitam yang merupakan cerita duka tetapi tidak selamanya duka – dari warna hitam pembaca akan dibawa kepada warna putih, merah muda yang mengungkapkan kesyukuran, dan kuning yang mencerahkan hari-hari – mengisahkan success story penulis. Setiap warna dibalut dengan warna hijau yang melambangkan kedekatan dengan Sang Maha Pencipta.

Contoh kisah untuk warna MERAH misalnya ketika Prof. Meta belajar mengendarai sepeda motor. Di mana dia belajar mencoba hal positif yang ketika berhasil, itu artinya Allah memang mengizinkannya berhasil. Kisah lain untuk warna ini adalah cerita tentang kekuatan di balik kelembutan perempuan. Yaitu ketika dia berhasil menendang pintu bus hingga terbuka supaya tidak alami kecelakaan.

Prof. Meta (kiri) dan Mbak Wulan (kanan). Sumber foto: akun Facebook Prof. Meta

MERAH MUDA – ada perenungan mengenai perasaan, ketika merasa diri kurang menarik maka yakinlah, Allah memberikan kelebihan lain. Juga ada kisah inspirasi 4 perempuan pada halaman 124 yang membuat Bu Irma sempat menitikkan air mata karena merefleksikan kisah itu kepada dirinya sendiri. Sepertinya bagi perempuan, membaca buku seperti ini membuatnya merefleksikannya pada dirinya sendiri, ya. Saya juga biasa seperti itu.

Warna HITAM mengajak kita menyelami makna bahwa tidak ada yang dapat mencegah jatuhnya takdir. PUTIH, adalah cahaya, menggambarkan akhir berupa tanya:
“Apa, sih yang sebenarnya dicari?”

Pada bagian akhir bukunya, Prof. Meta menggambarkan, dirinya masih jauh lebih banyak mencari dunia ketimbang akhirat. Namun Bu Irma berpendapat lain. Menurut Bu Irma, tidaklah seperti itu karena penulis selalu merangkaikan kisahnya dengan warna HIJAU yang melambangkan kedekatan dengan Allah subhananu wata’ala. Juga mengaitkannya dengan ayat-ayat Allah. “Penulis sudah berusaha menjadi istri dan ibu yang baik dan ingin berbagi melalui buku ini,” pungkas Bu Irma.

Mengurai Kepingan-Kepingan Hikmah di Balik Kehidupan

Selanjutnya, Bu Jus mendahului pemaparannya dengan menceritakan bagaimana dia mengenal penulis. Prof. Meta adalah generasi pertama dari orangtua yang menyekolahkan anaknya di SDIT Ar-Rahmah (padahal Prof. Meta dan suaminya yang juga guru besar di UNHAS baru saja pulang studi dari Jerman namun beliau memilih sekolah Islam terpadu untuk anak-anaknya).

Putera pertama Prof. Meta kini kuliah di Jerman. Putera keduanya sedang kuliah di Fakultas Kedokteran UNHAS dan memiliki bisnis kafe. Rencananya kelak, jika sudah buka praktik sendiri, bisa disubsidi dari bisnisnya jadi orang yang tidak mampu bisa berobat dengan mudah, tidak perlu takut dengan biaya yang tinggi. Pst, baru-baru ini saya mengintip Facebook Prof. Meta, seorang anaknya menulis di koran. Masya Allah, inspiratif, ya.

Quote yang artistik di dalam buku
Oya, Bu Jus memuji pemilihan sampul buku Dalam Syukur Kutemukan Cinta-Mu. Menurutnya, sampulnya “sederhana tapi artistik”. “Di dalamnya tidak ada gambar/foto tetapi ada ilustrasi dan sangat berseni,” tambahnya lagi.

Prof. Meta bak seorang fotografer yang andal mengambil angle dalam melihat sebuah peristiwa sehingga orang yang membacanya dengan “pengalaman” berbeda. “Dari awal hingga akhir buku sangat detail dalam menulis. Berarti kalau tidak punya catatan, ingatan Prof. Meta kuat,” tutur Bu Jus.

Bu Jus juga mengapresiasi kemampuan penulis dalam mengambil hikmah dari kejadian-kejadian yang ditulisnya. Contohnya dalam tulisan yang menceritakan Prof. Meta jatuh ke dalam got dan merasakannya sebagai teguran dari Allah. Dalam buku ini, penulis menampilkan dirinya apa adanya. Dia berani menampakkan kekurangan yang oleh orang lain mungkin saja kekurangan itu disembunyikannya.


Di akhir sesi, Prof. Meta menceritakan bahwa dirinya tak punya catatan tertulis. Semuanya berdasarkan ingatan. Beberapa kejadian diceritakannya, bahwa Allah mengingatkan kesalahannya dengan bermacam cara. Ada yang dengan 3 kali terjatuh. Jatuh pertama dan kedua kalinya kakinya terkilir saat dia menyalahkan lantai. Namun tersadar saat jatuh yang ketiga kalinya, tidak menyalahkan lantai lagi melainkan dirinya.

Harapan Prof. Meta adalah, mereka yang membaca buku Dalam Syukur Kutemukan Cinta-Mu bisa terinspirasi dan menjadi pengingat bagi diri sendiri. “Semua orang bisa menulis. Tuangkan ke dalam tulisan agar menjadi pengingat,” pungkas Prof. Meta.

Makassar, 8 Januari 2017

Bersambung ke tulisan berikutnya

1 comment:

  1. Penasaran dengan lanjutannya dinda.
    Sebenarnya saya juga sudah tulis kegiatan itu, tetapi masih sebatas konsep. Tertinggal karena kegiatan saya di Ikatan Guru Indonesia.

    ReplyDelete