Monday, April 24, 2017

Membedah Mantera Cinta

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari tulisan berjudul Kolaborasi Puisi, Musikalisasi Puisi, dan Lukisan Tanah Liat – merupakan catatan dari Seminar dan Diskusi Buku Sehimpun Puisi Mantera Cinta Karya Rusdin Tompo.

Judul: Sehimpun Puisi Mantera Cinta
Penulis: Rusdin Tompo
Penerbit: Liblitera Institute (Kabupaten Gowa)
Tahun terbit: 2016 (Juni, cetakan pertama)
ISBN: 978-602-73864-3-3
Dimensi buku:
Ketebalan: xiii + 154 halaman


Acara inti dikemas dalam bentuk talkshow. Nur Fitri Ishak memandu jalannya bedah buku dan diskusi. Ketiga nara sumber dan moderator duduk di kursi yang ditata di atas panggung.

Bicara tentang Mantera Cinta, menurut seorang Rusdin Tompo, “Cinta punya banyak makna. Dalam buku ini tidak bicara cinta dalam romansa tetapi tentang cinta itu sendiri dengan segala keruwetannya.” Mantera Cinta berisi puisi-puisi yang menceritakan mengenai banyak hal tentang cinta. Ada keluhan soal jodoh, patah hati, pulang ke rumah – pada apa dan siapa, dan lain-lain.

Panelis diskusi yang mendapatkan giliran pertama adalah Yudhistira Sukatanya (Ketua Harian LAPAKKSS). Ia mengatakan bahwa kehadiran buku seperti ini penting karena membuat seseorang tidak mudah dilupakan. “Buku ini jadi tempat intip sebagian perjalanan hidup Pak Rusdin,” kelakarnya.

Kiri - kanan: Rusdin Tompo, Yudistira, Irhyl Makkatutu, Sri Rahmi, Nur Fitri

Irhyl R. Makkatutu (penulis) mendapat giliran berikutnya untuk berpendapat tentang buku yang berisi 125 puisi cinta ini. Ia mengatakan bahwa buku Mantera Cinta sudah mengalami pengendapan. Buku puisi ini diperuntukkan bagi beberapa perempuan (ada nama-namanya) tapi menariknya, keluarga Rusdin Tompo (istri dan anak-anaknya) tahu.

Rusdin menanggapinya dengan menjelaskan bahwa sebagaimana yang tertera pada pengantar buku:
Menghimpun puisi-puisi bertema cinta bukan bermaksud untuk merawat kenangan tentang orang, tentang seseorang. Tapi tentang sebuah proses menemukan keasyikan berkarya, menulis, mengasah kemampuan menemukan diksi dengan muatan magma, dengan kedalaman tak terduga, dengan keluasan melampaui cakrawala.

“Bisa tentang seseorang. Tidak selalu spesial tapi bisa saja menghibur,” ujar Rusdin tentang buku Mantera Cinta.

Puisi-puisi yang terdokumentasi sejak tahun 1982 saat masih duduk di bangku SMP hingga sekarang disortir yang memang memiliki “rasa sastra”, dihimpun dalam buku-buku puisinya. Buku pertama bertema anak. Buku kedua – Mantera Cinta bertema cinta, dan buku ketiga bertema politik, demokrasi, dan masalah sosial.

Sri Rahmi (anggota legislatif penyuka kegiatan literasi) mendapat giliran terakhir. Ia sempat bertanya-tanya juga, menerbitkan kumpulan buku puisi cinta, apakah istri Rusdin Tompo tak cemburu? Namun dia menilai, di antara puisi Rusdin ada yang bermuatan spiritual.


Mengenai puisi Mantera Cinta yang semat menjadi guyonan dengan menyebutkan Rusdin sebagai “dukun cinta”, ditanggapi Rusdin dengan mengatakan bahwa puisi itu merupakan eksperimen dirinya usai membaca buku Apresiasi Puisi Indonesia karya Corrie Layun Rampan. Puisi Mantera Cinta ditulis dengan gaya kata dibolak-balik. Tentang gaya “bolak-balik” ini, terinspirasi dari lagu Gombloh zaman dulu: kalau cinta sudah mendekat, tai kucing rasa coklat.

Puisi Mantera Cinta ini dibuat tahun 1987. Semacam bentuk kegusaran Rusdin muda kala itu, sebagai kegelisahan seorang remaja yang ditulis saat sedang tidak punya pacar.

Kutipan puisi Mantera Cinta

Sayang sekali Alwy Rachman – budayawan yang juga menjadi nara sumber bedah buku tak hadir hingga acara berakhir. Namun demikian diskusi tetap berlangsung seru, termasuk saat beberapa puisi dari buku Mantera Cinta dibacakan. Di penghujung acara, Rusdin Tompo menyampaikan permohonan maafnya atas ketakhadiran Alwy Rachman yang juga sedang mengisi acara di tempat lain. Pastinya, ada halangan signifikan yang membuatnya batal hadir.

Makassar, 25 April 2017

Selesai


Baca juga pengalaman saya saat berpuisi:

2 comments:

  1. Bunda suka puisi ya ? Saya dulu lagi seneng bikin puisi pas msih smp. Setelah itu udah nggak lagi 🙈

    ReplyDelete
  2. Kalau baca puisi yang itu, pastilah isinya unik, ya?

    ReplyDelete